Monday, February 18, 2013

akhir di awal

. titik.


jadi kisah kali ini diawali dengan akhir hari yang cerah.

Setelah hari penuh dengan jadwal padat berfrekuensi tinggi, saatnya kembali pulang. Seperti biasa nunggu si saudara kandung dulu, ceritanya mau ikut mbonceng alias nebeng. Muncullah ide untuk banting stir menuju MUI (bukan yang majelis itu).

Memang kisah hidup siapa yang tau kalau bukan kita ketika mengalaminya. Berjalanlah menuju gerbang. Dengan jalan lereng terjal menanjak menurun nan membahana yang sesungghunya telah disediakan fasilitas tangga, tapi dengan penuh keisengan tinggi--meski tanpa keyakinan tinggi-- mencoba melewati lereng berumput itu. Seperti yang sama-sama kita ketahui, malam memiliki suasana yang cukup gelap. Tentulah tak tampak kondisi tempat kaki berpijak.

cukup membekas, di hati dan mata kaki..


tidak berhenti sampai disitu. Perjalanan kembali dilakukan setelah menunaikan pembasuhan (wudhu) . Tubuh pun cukup terlapisi dengan air. Mulai dari wajah, tangan, hingga telapak kaki yang bersentuhan langsung dengan bumi, terlapisi air. Dan entah terasuki apa, tetiba merasa lampu-lampu yang menempel pada kolom-kolom MUI terlihat begitu indah. Tanpa pikir panjang, tangan ini bergerak menuju besi-dudukan-lampu, menyentuhnya. 



BZZT! 


Dengan rasa yang sama, si besi-dudukan-lampu menunjukkan rasa kagum dengan menyampaikan getaran-getaran LISTRIK.

Dengan cerdasnya, tubuh terlapisi air ini tersetrum.

Dengan rasa canggung, lihat dan lirik kiri ke kanan, kanan ke kiri, kiri ke kanan, atas ke bawah...aman. Cukup sepi dan tidak ada yang melihat.

Dengan pengalaman tadi, pelajarilah kangkawan. JANGAN PERNAH MENYENTUH BESI-DUDUKAN-LAMPU di MUI. Bersetrum.

Dengan demikian nampaknya sudah cukup banyak waktu yang terhabiskan, demi sketsa-sketsa di atas.

Dengan pembahasan tadi, bagaimana detail konstruksinya?
*kembali ingat tugas*


Selalu positiv!

No comments:

Post a Comment